Jumat, 25 November 2011

perkembangan UN 2010




Ujian Nasional hanya mengukur kemampuan kognitif, sementara sikap, nilai moral, budi pekerti, dan keterampilan psikomotor lainnya terabaikan“ Para siswa kini harap-harap cemas menunggu hasil Ujian Nasional/UN (SMP/SMA) dan Ujian Akhir Berstandar Nasional/UASBN (SD). Tanggal 14 Juni nanti, BSNP melalui dinas pendidikan akan mengumumkan hasil ujian nasional/kelulusan siswa. Dengan nilai standar kelulusan minimal 5,25 diperkirakan angka tidak lulus tahun ini lebih tinggi dari tahun kemarin. Kalau hal ini terjadi tentu siswa dan orang tua yang paling dirugikan. Melihat pelaksanan UN kemarin, nuansa pemaksaan terhadap siswa masih saja terjadi. Seperti siswa yang terbaring di rumah sakit dan yang ada dalam penjara sekalipun semuanya harus ikut UN. Tidak peduli nanti  apakah sakitnya tambah parah atau bahkan sampai meninggal (peristiwa siswi SMP Madiun) atau yang dipenjara akan tambah benci pada belajar (sekolah). Orang tua juga stres, khawatir anaknya termasuk yang tidak lulus dalam UN. Kalau sudah demikian proses pendidikan di sekolah hadir sebagai sosok yang tak mengenal belas kasihan. Kemudian kepala sekolah dan guru merapatkan barisan untuk menyiapkan strategi agar siswanya lulus 100%. Para siswa dan orang tua melakukan berbagai cara agar lulus dalam UN. Mulai dari yang rasional sampai yang tidak rasional. Siswa belajar melebihi kapasitasnya, les privat, ikut bimbingan belajar sampai membeli soal dan jawaban UN.

Nilai-nilai moral, budi pekerti, kerjasama, kolaborasi, dan keterampilan psikomotor lainnya terabaikan. Padahal sudah banyak hasil penelitian yang menyatakan bahwa kesuksesan seseorang hanya 20%  ditentukan oleh kecerdasan intelektual dan yang 80% ditentukan oleh serumpun kemampuan yang disebut kecerdasan emosional (Daniel Goleman). Alhasil pendidikan kita tidak mampu menumbuhkembangkan anak-anak untuk lebih menghargai perbedaan dalam konteks sosial budaya yang beragam (multikultural). Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya tindak kekerasan antar siswa di berbagai tempat. Mereka kurang mampu berpikir kreatif, kritis dan produktif. Mereka juga tidak mampu mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan berkolaborasi. Bahkan kepekaan sosial kepada orang lain dan saudaranya sendiri menjadi lemah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar